Sejarah Kerajaan Berau Bersiap Naik Panggung, Teater Pelajar Dibidik Jadi Atraksi Wisata dan Ruang Baru bagi Ekonomi Kreatif Daerah
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Bagaimana jika sejarah kerajaan dan perjalanan panjang Berau tidak hanya dibaca dari buku, tetapi dihidupkan di atas panggung? Gagasan itulah yang mulai dilirik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau seiring perkembangan teater pelajar yang dinilai semakin menjanjikan.
Panggung teater tak
lagi dipandang sebatas tempat berkompetisi atau menyalurkan bakat seni pelajar,
tetapi mulai diarahkan menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah, memperkuat
identitas budaya, sekaligus membuka peluang baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kepala Disbudpar
Berau, Yudha Budisantosa, menilai perkembangan teater pelajar saat ini
menunjukkan arah positif. Bukan hanya dari jumlah peserta yang semakin menarik
perhatian, kualitas pementasan juga disebut terus mengalami peningkatan.
“Artinya memang sudah
berkembang dan kualitasnya juga semakin meningkat. Ini bisa jadi alternatif
untuk mendukung pariwisata juga ekonomi kreatif,” ujar Yudha, baru-baru ini.
Menurutnya,
perkembangan tersebut perlu diikuti dengan dukungan sarana dan prasarana yang
lebih memadai. Sebab, semakin berkembangnya kualitas pertunjukan akan
membutuhkan ruang pentas yang mampu memberikan pengalaman lebih baik bagi
pemain maupun penonton.
Salah satu lokasi
yang mulai dilirik adalah gedung bioskop di Kecamatan Teluk Bayur. Gedung
tersebut memiliki kapasitas sekitar 400 penonton dan dinilai cukup potensial
menjadi alternatif lokasi pertunjukan apabila teater ke depan dikembangkan
dengan konsep yang lebih luas.
Tidak menutup
kemungkinan, pertunjukan teater nantinya dikemas secara lebih profesional
dengan sistem tiket berbayar.
“Mau kita coba juga
untuk teater ini, di sana kapasitas yang jelas lebih untuk penonton. Ini mau
kita sebarluaskan juga nanti,” tutur Yudha.
Konsep tersebut
membuka ruang baru bagi perkembangan teater di Berau. Jika selama ini
pementasan lebih banyak hadir dalam agenda festival atau kegiatan tertentu, ke
depan pertunjukan dapat diarahkan menjadi tontonan yang bisa dinikmati
masyarakat secara lebih luas.
Di sinilah peluang
ekonomi kreatif mulai terbuka.
Sebuah pertunjukan
tidak hanya membutuhkan pemain, tetapi juga penulis naskah, sutradara, penata
musik, tata cahaya, kostum, tata panggung hingga berbagai kebutuhan produksi
lainnya. Jika ekosistem tersebut tumbuh, teater dapat melibatkan lebih banyak
pelaku kreatif sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar pertunjukan.
Namun, ada satu
potensi yang dinilai jauh lebih dekat dengan identitas Berau: sejarah lokal.
Yudha mendorong para
pegiat teater untuk mulai menggali kisah kerajaan yang pernah berjaya di Berau,
tokoh-tokoh masa lalu, perjalanan daerah, hingga berbagai peristiwa bersejarah
yang selama ini lebih banyak dikenal melalui buku dan cerita turun-temurun.
Menurutnya, berbagai
kisah tersebut memiliki bahan cerita yang kuat untuk dikembangkan menjadi
sebuah pertunjukan.
“Coba digali karena
mungkin itu bisa menarik perhatian lebih banyak orang, karena orang juga ingin
tahu tentang sejarah kita melalui teater,” katanya.
Melalui teater,
sejarah dapat disampaikan dengan cara yang berbeda. Kisah masa lalu tidak hanya
hadir sebagai rangkaian tahun, nama tokoh, atau catatan peristiwa, tetapi dapat
divisualisasikan melalui karakter, konflik, musik, kostum, tata panggung dan suasana
yang membuat penonton seolah melihat kembali kehidupan pada masa tersebut.
Pendekatan ini juga
dinilai relevan untuk mengenalkan sejarah Berau kepada generasi muda.
Anak-anak muda yang
mungkin tidak akrab dengan narasi sejarah dalam bentuk buku dapat mengenalnya
melalui cerita yang lebih dekat dengan dunia mereka. Tokoh sejarah dapat
diperankan, konflik dapat divisualisasikan, sementara suasana masa lalu dapat
dibangun melalui panggung dan musik.
Dengan begitu,
panggung teater bukan hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi
ruang belajar sejarah yang dikemas melalui seni.
Sejarah yang selama
ini tersimpan dalam buku berpeluang mendapatkan kehidupan baru di atas
panggung.
Perkembangan teater
pelajar di Berau juga membuka peluang lebih besar melalui perluasan peserta.
Setelah mulai menjangkau wilayah Kalimantan Utara, seperti Kabupaten Bulungan,
penyelenggaraan berikutnya berpeluang menghadirkan kelompok teater dari sejumlah
daerah di Kalimantan Timur.
Samarinda,
Balikpapan, hingga Kutai Kartanegara menjadi beberapa daerah yang berpeluang
ikut terlibat.
Semakin banyak daerah
yang berpartisipasi, semakin besar pula peluang DaFT berkembang dari sekadar
ajang kompetisi pelajar menjadi ruang pertemuan komunitas seni pertunjukan
antardaerah.
Pertemuan tersebut
dapat menjadi ruang bertukar gagasan, pengalaman, karya, sekaligus memperluas
jejaring pelaku seni pertunjukan di Kalimantan.
Jika didukung tempat
pertunjukan yang lebih representatif, konsep tiket berbayar, serta materi
cerita yang kuat, teater Berau berpeluang memasuki tahap pengembangan baru.
Bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Bukan pula sekadar tentang siapa yang tampil paling menarik di atas panggung. Lebih jauh, ada peluang untuk menjadikan teater sebagai cara memperkenalkan Berau melalui cerita dan budayanya sendiri.
Kisah kerajaan, tokoh
sejarah, tradisi, kehidupan masyarakat masa lalu, hingga perjalanan
terbentuknya daerah dapat menjadi sumber cerita yang tidak ada habisnya.
Ketika cerita itu
kemudian dikemas menjadi pertunjukan, masyarakat tidak hanya datang untuk
menonton teater.
Mereka datang untuk
melihat kembali cerita tentang daerahnya sendiri.
Dan jika konsep
tersebut terus dikembangkan, panggung teater pelajar Berau bukan tidak mungkin
menjadi salah satu ruang baru yang mempertemukan seni, sejarah, pariwisata dan
ekonomi kreatif dalam satu pertunjukan. (sep/FN)